Rabu, 03 Desember 2014

Kesenian Betawi dan Tarian Betawi


KESENIAN BETAWI

1. Ondel-ondel

Sekilas ondel-ondel mirip dengan ogoh-ogoh dari Bali. Ondel-ondel dipengaruhi oleh budaya Hindu. Seperti kita ketahui bersama dahulu tanah Betawi pernah dikuasai oleh kerajaan Hindu Tarumanegara. Pada saat itu pertanian mulai dikenal di tanah Betawi. Ondel-ondel diarak saat panen raya untuk menghormati Dewi Sri.Sedangkan lambat laun filosofi ondel-ondel mulai bergeser. Boneka besar setinggi sekitar  2 meter tersebut dipercaya sebagai simbol nenek moyang yang menjaga anak-cucunya yang masih hidup. Makanya  ondel-ondel biasanya sengaja ‘ditanggap’ untuk memeriahkan hajatan besar Betawi. Maksudnya untuk mengusir segala roh jahat yang akan mengganggu jalannya 

 

2. Gambang KromongSejarah musik ini awalnya dipengaruhi beberapa unsur musik Cina, yaitu dengan digunakannya alat musik gesek berupa kongahyan, tehyan, dan skong.  Sementara alat musik asli pribumi dalam gambang kromong berupa gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong. Awal mula terbentuknya orkes gambang kromong tidak lepas dari seorang pimpinan golongan Cina yang bernama Nie Hu-kong. Biasanya permainan musik ini dikolaborasikan dengan tarian cokek.

 

3. Tanjidor

Musik tanjidor diduga berasal dari bangsa Portugis yang datang di Batavia pada abad ke 14 hingga 16. Tanjidorsendiri berasal dari bahasa Portugis ‘tanger’ yang artinya bermain musik. Hanya saja lidah Betawi melafalkannya tanjidor.Pada zaman penjajahan Belanda,  tanjidor biasa dimainkan oleh para budak untuk menghibur tuan kompeni dan para tamu. Sampai sekarang tanjidor masih dimainkan untuk memeriahkan pesta hajatan orang Betawi.

 

4. Keroncong Tugu

Sejak abad ke-18 keroncong Tugu popular di kalangan warga Tugu. Warga Tugu adalah masyarakat Jakartaketurunan Mardijkers atau bekas anggota tentara Portugis yang dibebaskan dari tawanan Belanda. Setelah memeluk agama Kristen, mereka ditempatkan di Kampung Tugu, yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Koja Jakarta Utara. Sisa peninggalan gereja tua yang dibangun pada tahun 1600-an menjadi saksi cikal bakal keturunan Portugis di Tugu.Keroncong Tugu biasa dimainkan oleh warga terutama muda-mudi saat ‘kongkow’ untuk menikmati malam bulan purnama di tepian Sungai Ciliwung. Keroncong Tugu juga dibawakan untuk mengiringi kebaktian di gereja. Alat-alat musik yang digunakan adalah keroncong, biola, ukulele, banjo, gitar, rebana, kempul dan selo.

 

5. Orkes Gambus

Irama musik gambus tidak bisa dipisahkan dari unsur budaya Timur Tengah. Sudah lama orkes gambus menjadi  bagian dari kesenian Betawi yang tumbuh subur di kalangan Betawi keturunan Arab. Biasanya musik gambus dimainkan untuk mengirimi para penari zapin.

 

 

6. Rebana

Musik rebana adalah  musik khas Betawi yang bernafaskan Islam. Musik ini dipeengaruhi oleh budaya Timur Tengah. Sama seperti tanjidor, musik ini biasanya untuk memeriahkan pesta atau arak-arakan pengantin. Beberapa jenis musik rebana yang kita kenal, misalnya rebana ketimpring, rebana ngarak, rebana dor juga rebana biang.

 

7.Orkes Samrah

Orkes samrah merupakan salah satu bentuk kesenian hasil akulturasi dengan bangsa Melayu. Lagu-lagu yang biasa dibawakan dalam orkes samrah  adalah lagu-lagu Betawi tempoe doeloe seperti lagu Burung Putih, Pulo Angsa Dua, Sirih Kuning, juga lagu Cik Minah. Orkes samrah juga biasa dipakai mengiringi lagu-lagu khas Betawi semacam Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang Kangkung dan lain-lain.Orkes samrah biasa mengiringi tari samrah. Tari samrah biasa dilakukan oleh pasangan muda-mudi. Gerakannya pun merupakan perpaduan antara silat Betawi dan gerakan tari khas Betawi lainnya.

 

Wayang Betawi
Dalam dunia pewayangan Betawi dikenal dua jenis wayang yaitu wayang kulit dan wayang golek. Wayang merupakan salah satu bentuk akulturasi budaya Betawi dengan budaya Jawa dan Sunda. Namun pengaruh Sunda terasa lebih kental, dengan penggunaan bahasa Betawi medok campur Sunda dalam pertunjukan wayang Betawi.Alat musik utama yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang Betawi ini adalah gamelan yang mirip gamelan Sunda, dan tehyang (alat musik khas Betawi).

 

Lenong BetawiTeater rakyat khas Betawi yang dikenal sejak tahun 1920-an ini mendapatkan pengaruh kebudayaan Melayu. Ada dua jenis cerita dalam lenong yaitu Lenong Denes (bercerita tentang kerajaan atau kaum bangsawan) sementara Lenong Preman berkisah tentang kehidupan rakyat sehari-hari ataupun dunia jagoan. Lenong Denes biasanya menggunakan bahasa Melayu, sedangkan Lenong Preman menggunakan bahasa Betawi medok.

 

. Palang Pintu

Seni Palang PintuPalang Pintu adalah seni budaya yg biasa nya di gunakan atau dapat dilihat atraksinya di berbagai acara adat betawi, seperti perkawinan, penerimaan tamu kehormatan, dan lain-lain.

Palang pintu juga di hiasai oleh pantun-pantun betawi, dan diiringi oleh musik marawis, atau gambang kromong atau tanjidor yang khas tentunya dengan betawi. Yang menarik adalah, atraksi pencak silat yang diperagakan umumnya menggunakan senjata tajam sejenis golok, dan si jagoan atau pengawal tamu atau mempelai pria harus memenangi pertarungan tersebut.

Palang pintu walau terlihat ada kekerasan dengan adu jotos dan menggunakan senjata tajam, namun budaya yang satu ini cenderung jenaka karena aksi-aksi para pesilatnya.

 

 

Topeng Blantek

Seni Topeng BlantekSebagai suku asli di Jakarta, Betawi sangat kaya akan seni dan budaya. Namun, tidak semua kesenian Betawi dikenal masyarakat secara luas, termasuk seni topeng blantek. Padahal, jauh sebelum kesenian tradisional Betawi seperti gambang kromong, lenong dan lain sebagainya dikenal masyarakat, topeng blantek sudah lebih dulu hadir di tengah-tengah masyarakat Betawi.

Soal asal-usul nama kesenian ini berasal dari dua suku kata, yaitu topeng dan blantek. Istilah topeng berasal dari bahasa Cina di zaman Dinasti Ming. Topeng asal kata dari to dan peng. To artinya sandi dan peng artinya wara. Jadi topeng itu bila dijabarkan berarti sandiwara. Sedangkan untuk kata blantek ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari bunyi-bunyian musik yang mengiringinya. Yaitu satu rebana biang, dua rebana anak dan satu kecrek yang menghasilkan bunyi, blang blang crek. Namun, karena lidah lokal ingin enaknya saja dalam penyebutan maka munculah istilah blantek.

Pendapat lainnya mengatakan, asal nama blantek berasal dari Inggris, yaitu blindtexs, yang berarti buta naskah. Marhasan (55), tokoh pelestari topeng blantek mengatakan, permainan blantek dahulu kala tidak memakai naskah dan sutradara hanya memberikan gagasan-gagasan garis besar cerita yang akan dimainkan.

Ciri dari kesenian topeng blantek yaitu terdapat tiga buah sundung (kayu yang dirangkai berbentuk segi tiga yang biasa digunakan untuk memikul sayuran, rumput dan lain sebagainya). Yaitu satu sundung berukuran besar dan dua berukuran kecil yang diletakkan di pentas sebagai pembatas para pemain yang sedang berlakon dengan panjak dan musik juga dengan para pemain lain yang belum dapat giliran berlakon. Kemudian perangkat lainnya berupa obor yang diletakkan di tengah pentas.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tarian

1.Tari Yapong

Tarian ini kadangkala berfungsi sebagai tari pergaulan untuk mengisi acara menari sesuai permintaan, karena tarian ini penuh dengan variasi. Tari Yapong merupakan tarian yang penuh kegembiraan dengan gerakan yang dinamis dan erotis. Tari ini kemudian diolah dengan unsur-unsur tari pop antara lain unsur tari daerah Sumatera. Selain juga dipengaruhi oleh unsur kesenian Tionghoa, misalnya dalam kain yang dipakai oleh para penari terdapat motif naga dengan warna merah menyala. Pengembangan pakaian tarian ini juga berasal dari tari Kembang Topeng Betawi yang terlihat jelas dari hias tutup kepala serta selempang dadanya, yang disebut toka-toka.

2. Tari Kembang Topeng

Tari ini termasuk yang paling kaya dengan unsur tari dan juga terpadu dengan unsur teater. Dalam bahasa Betawi, perkataan topeng dapat berarti tontonan, pertunjukan teater, penari atau primadona. Pemain Topeng Betawi biasanya dianggap sebagai primadona, kostumnya paling unik, serba meriah, dan gemerlapan. Dalam upacara "Kaulan" penari Kembang Topenglah yang diberikan kehormatan bersama tuan rumah dan anak yang dikaul, bersama memegang piring berisi ketupat kaul pada waktu mantera kaulan diucapkan, karena memang kebudayaan Betawi masih identik dengan upacara keagamaan.

3.Tari Samrah

Biasanya para penari samrah menari berpasang-pasangan dengan gerakan tari bermacam-macam, yang salah satunya dipengaruhi oleh gerakan silat. Tokoh dalam bidang musik samrah adalah Ali Sabeni

Tari Cokek

Tarian ini biasanya digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning, dan sebagainya. Tarian ini ditarikan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tarian ini juga diwarnai oleh budaya China. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penarinya, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Pakaian penari cokek biasanya terdiri dari baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna.

Beragam tarian dari Betawi ini membuktikan kekayaan budaya yang terkandung di sana. Bagi orang Betawi, tentu tarian ini salah satu tarian yang harus dilestarikan. Namun, bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, kita patut bangga.

 

Tari Pencak Silat

tidak bisa dilepaskan dari seni bela diri Pencak Silat tersebut, karena gerakan dan kostum pada Tari Silat merupakan hasil adaptasi dari Pencak Silat sendiri. Konon, Silat yang ditarikan dan diiringi musik adalah upaya perguruan Silat untuk mengelabui Belanda di masa penjajahan. Setelah sebelumnya para pendekar silat belajar dengan sembunyi-sembunyi. Karena pada masa itu, segala jenis bela diri dilarang beredar di Indonesia.

 

Tari Pencak Silat tergolong belum lama berkembang di Betawi. Sebab selama ini para pelaku silat Betawi tidak terlalu mementingkan kembangan atau gerakan memperhatikan dan mengawasi musuh. Bagian kembangan ini di beberapa daerah terkadang menyerupai gerak tari.

 

Berbeda dengan tari pencak silat di Jawa Barat yang diiringi gendang pencak, tari silat Betawi diiringi Gambang Kromong dan Rebana Biang. Tetapi ada pula yang memakai kendang pencak seperti di kawasan Kayu Manis dan Cirendeu. Akan tetapi instrument kendang pencak pada tari silat Betawi hanya sebagai pembawa irama saja. Sedangkan di Jawa Barat kendang pencak difungsikan sebagai pembawa irama sekaligus memberikan penekanan pada gerakan-gerakan penarinya.

 

Dalam prosesi pernikahan adat Betawi terdapat tradisi "palang pintu", yaitu peragaan silat Betawi yang dikemas dalam sebuah sandiwara kecil. Acara ini biasanya digelar sebelum akad nikah, yaitu sebuah drama kecil yang menceritakan rombongan pengantin pria dalam perjalanannya menuju rumah pengantin wanita dihadang oleh jawara kampung setempat yang dikisahkan juga menaruh hati kepada pengantin wanita. Maka terjadilah pertarungan silat di tengah jalan antara jawara-jawara penghadang dengan pendekar-pendekar pengiring pengantin pria yang tentu saja dimenangkan oleh para pengawal pengantin pria.

 

4. Tari-tarian Daerah DKI Jakarta

 

Tari Betawi

Tari Silat Betawi

Tari Ondel Ondel Betawi

Tari Kembang Kemor Betawi

Tari Gado Gado DKI Jakarta

Tari Kukila DKI Jakarta

Tari Lenggang Nyai Jakarta

Tari Topeng Gong Betawi

 

Tari Renggong Manis.

Tarian yang merupakan ungkapan kebahagiaan dan rasa kebersamaan para remaja putri ini merupakan perpaduan antara budaya Betawi, Arab, India, dan terutama budaya Cina Klasik. Tidak heran jika melihat banyaknya pengaruh budaya luar yang banyak masuk ke dalam budaya Betawi, mengingat letak Jakarta dan adanya pelabuhan Sunda Kelapa sendiri yang merupakan pintu menuju Indonesia di masa lampau.

 

Tari Renggong Manis biasa dimainkan dalam acara-acara resmi. Biasanya ditampilkan pertama sebelum memasuki acara utama, sebagai media penyambutan tamu. Kebahagiaan tuan rumah atas kedatangan tamunya diasosiasikan dengan keceriaan Tari Renggong Manis tersebut.

 

TARI MEONG

: Tari Meong adalah tarian yang menceritakan tentang kucing-kucing kecil sedang bercanda ria.

 

Tari Gado-Gado Betawi menggambarkan tentang kegiatan wanita yang sedang berhias, mempersiapkan diri untuk menyambut tamu

 

Tari Kukila merupakan tarian yang menggambarkan gerak-gerik burung. Baik irama maupun ragam gerak yang dinamis dan lincah disusun untuk menggambarkan kegesitannya dalam meluncur, hinggap dan kembali terbang. Tari Kukila adalah satu dari sekian banyak tarian tradisonal  yang gerakannya diambil dari tingkah laku binatang.

 

Dalam falsafah Jawa, Kukila termasuk ke dalam lima syarat paripurnanya hidup seorang lelaki, setelah wisma (rumah), wanondya (istri), turangga (kendaraan), dan curiga (senjata). Kukila dalam falsafah Jawa tersebut berarti burung peliharaan sebagai klangenan atau hobi. Esensi dari memiliki klangenan bertujuan untuk memberikan kesenangan, membuang penat dan menyegarkan pikiran pemiliknya. Sejatinya hubungan antara Tari Kukila dan falsafah Jawa tersebut menunjukan apa yang ingin dicapai oleh tarian tersebut. Rangkaian gerakan yang ditampilkan tersebut diharapkan dapat memberikan kesenangan tersendiri bagi yang menontonnya

 

Tari Lenggang Nyai, tarian yang berasal dari tanah Betawi yang menceritakan  kisah Nyai Dasimah.

 

Asal mula tari lenggang ini berasal dari kisah nyai dasimah,Nyai Dasimah adalah gadis cantik asal Betawi yang berada  dalam kebingunannya memilih dua pilihan pasangan hidup,  seorang Belanda dan Seorang Indonesia. Ia kemudian menjadi istri seorang Belanda, Edward William. Merasa terkekang oleh aturan-aturan yang dibuat suaminya, Nyai Dasima menjadikan alasan tersebut untuk memberontak atas kesewenang-wenangan yang dilakukan terhadap dirinya. Perjuangan atas hak-hak perempuan itulah yang menginspirasi Wiwiek Widiastuti untuk mengenang perjuangan Nyai Dasima dalam gerak tarian Lenggang Nyai.

 

Karakter tari lenggang nyai lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk gerak yang lincah sebagai personifikasi masyarakat betawi. Terkadang, seperti yang tidak bisa mengambil keputusan, gerakan tari ini menunjukan bagaimana ia bergerak pada satu sisi ke sisi lain. selain itu, tari Lenggang Nyai juga menceritakan keceriaan dan keluwesan gadis belia Betawi dan tentunya kebahagiaan Nyai Dasima yang bisa menentukan pilihan hidupnya.

 

 

Seperti tarian asal Betawi pada umumnya, tarian ini juga ditampilkan dengan iringan musik Gambang Kromong yang memiliki unsur budaya Cina. Pun dari segi kostum yang dikenakan oleh para penari. Dominasi warna merah menyala dan hiasan kepala identik dengan tradisi Cina.

Tari topeng gong

               
Tari kreasi baru yang diangkat dari tarian dalam teater tradisional Topeng Betawi. Gerakannya masih berpola pada gerak dasar Tari Topeng Betawi. Tari Topeng Gong merupakan satu bentuk kesenian tari yang memakai topeng, kedok, atau tapel yang diiringi dengan gamelan. Merupakan seni gamelan yang dilengkapi dengan tarian, lawakan, serta lakon atau cerita rakyat Betawi. Dengan catatan bahwa tarian tersebut tanpa mempergunakan topeng yang mirip dengan tari Longser dan Ketuk Tilu di Jawa Barat. Bentuk seni pertunjukan seperti itu merupakan upaya penggarap seni/para seniman setempat dalam rangka pengembangan seni Gamelan Ajeng di Betawi agar tidak membosankan dan tidak ditinggalkan oleh penontonnya. Hal ini telah berlangsung beberapa tahun yang lal

Bola Tangan


Bola Tangan

 

Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa

Bola tangan adalah olahraga beregu di mana dua regu dengan masing-masing 7 pemain (6 pemain dan 1 penjaga gawang) berusaha memasukkan sebuah bola ke gawang lawan. Permainan ini mirip dengan sepak bola, tapi cara memindahkan bola adalah dengan tangan pemain, bukan kaki.

Lapangan bola tangan berukuran 40 m x 20m dengan garis pemisah di tengah dan gawang di tengah kedua sisi pendek. Di sekeliling gawang dibuat garis untuk menandai daerah yang hanya boleh dimasuki penjaga gawang. Bola yang digunakan lebih kecil dari bola sepak. Handball dimainkan selama 2 x 30 menit. Penalti dilakukan dari jarak 7 meter. Handball juga dipertandingkan di Olimpiade

 

Permainan bola tangan merupakan modifikasi antara permainan bola basket dan sepak bola yang mengandalkan kemahiran tangan untuk memasukkan bola kegawang lawan.

Dimainkan oleh 2 regu, masing-masing regu terdiri dari 7 orang pemain dan dimainkan pada lapangan berukuran 20x40 meter. Tujuan permainan adalah mencetak gol sebanyak-banyaknya, dengan cara melempar bola ke gawang lawan yang dijaga oleh lawan. Permainan ini memainkan bola dengan seluruh anggota tubuh, kecuali kaki dan cara bermainnya membawa bola sebanyak-banyaknya tiga langkah dan menahan bola ditangan paling lama menit.

 2. Peraturan

a. Lapangan

Lapangan berbentuk empat persegi panjang berukuran:

• Panjang lapangan : 40 meter

• Lebar lapangan : 20 meter

• Garis pembatas lapangan : 5 cm

b. Gawang

Tiang gawang harus berbentu persegi panjang dengan ukuran 8x8 cm, sedangkan ukuran gawang adalah sebagai berikut:

• Tinggi gawang: 2 meter

• Lebar gawang : 3 meter

c. Daerah gawang

Daerah gawang dibuat garis panjangnya 3 meter, pada jarak 6 meter (akhir) dan ujungnya dihubungkan dengan garis gawang, dengan membentuk seperempat lingkaran dengan jari-jari 6 meter diukur dari tiang gawang.

d. Garis lempar bebas

Garis lempar bebas dibuat dengan panjang 3 meter, dibuat pada jarak 9 meter dari garis gawang, dan ujungnya dihubungkan pada garis gawang membentuk seperempat lingkaran, berjari-jari 9 meter diukur dari tiang gawang

Selasa, 25 November 2014

Contoh Resensi Novel Sastra "Harimau Harimau!'



Resensi Novel  Harimau! Harimau!

Judul karya resensi      : Penyesalan Dosa
Judul buku                 : Harimau! Harimau!
Penulis                      : Mochtar Lubis
Penerbit                    : Yayasan Obor Indonesia
Tebal                        : vi + 214 halaman. : 11 x 17 cm
ISBN                         : 978-979-461-109-8
Tentang Penulis :
           Mochtar Lubis, pengarang ternama ini dilahirkan tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Selain sebagai wartawan ia dikenal sebagai sastrawan. Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam buku Si Jamal (1950) dan Perempuan (1956). Sedang romannya yang telah terbit: Tidak Ada Esok (1950), Jalan Tak Ada Ujung(1952) yang mendapat hadiah sastra dari BMKN. Selain itu, romannya yang mendapat sambutan luas dengan judul Harimau! Harimau! (Pustaka Jaya 1975) telah mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai buku terbaik tahun 1975.
Sinopsis :
            Di dalam hutan terdapat sumber-sumber nafkah hidup manusia seperti: rotan, damar, dan berbagai bahan kayu. Tujuh orang pria yang terdiri dari Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, Pak Balam, Sutan, Buyung, Talib, dan Sanip telah seminggu lamanya tinggal di dalam hutan mengumpulkan damar. Mereka mencari nafkah dengan mengumpulkan damar untuk istri dan anak-anaknya di kampung Air Jernih, terkecuali Buyung, ia satu-satunya yang paling muda diantara mereka dan belum menikah.
            Mereka bertujuh selalu bersama-sama pergi mengumpulkan damar, meskipun mereka sebenarnya tak berkongsi, dan masing-masing menerima hasil penjualan damar yang dikumpulkannya sendiri. Mereka merasa lebih aman dan lebih dapat bantu-membantu melakukan pekerjaan.
         Wak Katok merupakan pemimpin rombongan pendamar itu. Yang muda-muda seperti Talib, Sanip, Sutan, dan Buyung, mereka semua murid pencak Wak Katok. Mereka juga belajar ilmu sihir dan gaib pada Wak Katok. Mereka termasuk orang baik di mata orang kampung.
          Dari kampung Air Jernih ke hutan, ada seminggu jauhnya berjalan kaki. Mereka membawa beras, cabai, asam, garam, da panci, kopi, dan gula untuk perbekalan mereka selama berburu damar di hutan.Selain mancari damar, mereka juga berburu rusa. Di hutan terdapat huma kepunyaan Wak Hitam. Di sebuah pondok di ladang Wak Hitamlah mereka selalu bermalam selama berada di hutan. Wak Hitam mempunyai empat orang istri, namun istri yang paling mudalah yang menemaninya di huma. Ia bernama Siti Rubiyah. Ia masih muda dan cantik. Wak Katok maupun muridnya yang muda-muda diam-diam menyukainya, namun sebenarnya mereka takut pada Wak Hitam yang mempunyai ilmu sihir yang hebat. Siti Rubiyah dipaksa orangtuanya menikah dengan Wak Hitam. Wak Hitam menikahinya Siti Rubiyah  hanya untuk memakai kemudaannyauntuk mempermuda dirinya sendiri. Ada cerita yang mengatakan bahwa Wak Hitam bersekutu dengan ibis, setan, dan jin, dan dia memelihara seekor harimau siluman. Saat itu Wak Hitam sedang sakit demam yang tak kunjung sembuh, dengan sabar Siti Rubiyah merawatnya.
           Setelah mereka berminggu-minggu mengumpulkan damar dan menumpang di huma Wak Hitam, mereka berniat untuk pulang ke kampungnya membawa semua damar yang berhasil mereka kumpulkan. Di tengah perjalanan mereka sempat berburu rusa. Di pinggir sungai mereka beristirahat untuk makan malam dengan hasil buruan mereka. Disana mereka membuat sebuah pondok dan api unggun. Pak Balam ketika sedang berhajat tiba-tiba ia diserang oleh seekor harimau yang besar. Ia diseret ke tengah hutan. Kawan-kawannya dengan sigap menyelamatkan Pak Balam bermodal senapan latuk milik Wak Katok dan parang panjang. Pak Balam berhasl diselamatkan namun dalam keadaan yang sangat parah. Pak Balam akhirnya bercerita bahwa ini semua terjadi akibat dosa-dosa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Satu per satu pun diantara mereka menjadi korban harimau. Nyawa Pak balam, Talib, dan Sutan tak dapat diselamatkan akibat diserang oleh harimau yang mengikuti perjalanan mereka.
            Yang tersisa hanyalah Pak Haji, Wak Katok, Sanip dan Buyung. Wak Katok marah, ia tidak senang setelah Pak Balam di masa kritisnya sebelum meninggal, ia menceritakan segala dosa-dosanya yang terdahulu kepada teman-temannya. Mulai dari situ terbongkarlah sosok Wak Katok yang sesungguhnya. Selama ini ia berpura-pura menjadi orang yang ahli silat, ia juga sebenarnya dukun palsu. Ia berniat untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan modal senapan miliknya. Sampai akhirnya terjadi pertikaian di antara mereka dan jatuhlah korban. Pak Haji meninggal setelah di tembak Wak Katok dengan senapan miliknya.
          Dari kejadian itu Buyung dan Sanip mengatur strategi untuk bisa mengambil senapan itu dari tangan Wak Katok. Diikatnya Wak Katok dan ia dijadikan umpan agar harimau itu dapat Buyung bunuh. Sebelum meninggal, Pak Haji pernah berkata bahwa  “Bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu dan percayalah pada Tuhan”. Kata-kata itu menyadarkan Buyung bahwa ia harus percaya adanya Tuhan yang selalu melindungi dan jangan menaruh dendam pada orang lain. Dengan senapan yang berhasil di ambil dari tangan Wak Katok, Buyung akhirnya berhasil menembak mati harimau itu sebelum ia menyerang Wak Katok. Buyung dan sanip bahagia, mereka telah berhasil menembak mati harimau yang telah menyebabkan hidup mereka menjadi tidak tenang dalam perjalanan dan telah menjatuhkan korban yang tak lain kawan-kawannya yang telah meninggal dunia.
Keunggulan buku :
            Cover novel ini bagus, dengan perpaduan warna orange dan hitam  serta gambar seekor harimau dan seseorang yang sedang memegang senapan. Dari sini pembaca dapat merasakan bahwa cerita dalam novel ini pasti penuh dengan ketegangan. Selain itu gaya bahasa yang digunakan juga mudah dipahami oleh pembaca.
Kelemahan buku:
            Terdapat kata-kata yang kasar dalam novel ini. Dimana kata-kata itu muncul saat konflik yang terjadi antar tokoh, contohnya seperti kata “bangsat”. Terdapat beberapa kalimat yang menggambarkan pornografi, sehingga dari sini dapat diketahui bahwa novel ini di tujukan untuk orang dewasa. Selain itu juga terdapat beberapa kata-kata yang salah ketik  dan beberapa kalimat yang tidak sesuai dengan EYD dalam novel ini. Akhir cerita dalam novel ini tidak jelas, seolah-olah ceritanya masih bersambung.
Saran-saran terhadap buku ini :
           Diharapkan penulis dapat menggunakan kalimat yang sesuai dengan EYD dalam penulisan novelnya dan memeriksa kembali cerita novelnya  yang telah diketik, agar tidak terjadi kesalahan kata-kata setelah novel di cetak.
Manfaat isi buku :
           Novel ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup kita harus saling tolong menolong sebab kita tidak hidup sendiri dan tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap manusia  harus belajar hidup dengan kesalahan dan kekurangan manusia lain. Kita juga  harus selalu bersedia memaafkan kesalahan orang lain dan janganlah menaruh dendam kepada orang lain seperti kalimat yang terdapat dalam novel ini “Bunuhlah harimau dalam hatimu”. Selain itu juga novel ini mengingatkan kita agar kita selalu ingat kepada Tuhan, jangan percaya pada hal-hal yang bersifat tahayul. Kita juga disadarkan untuk segera bertaubat atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan karena sesungguhnya Tuhan dapat mengampuni segala dosa jika yang berdosa datang pada-Nya dengan kejujuran dan penyesalan yang sungguh-sungguh.



Adapun unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Harimau ! Harimau ! adalah sebagai berikut :

                    i.            Alur

Adapun alur yang terdapat dalam novel Harimau ! Harimau ! adalah alur maju ( progresif), hal ini dikarenakan cerita menceritakan kejadian dari awal sampai akhir tanpa adanya unsur kejadian masa lampau. Secara rinci tahap alur cerita dapat diuraikan sebagai berikut :

1)      Pengenalan cerita

Tujuh orang pencari damar yakni, Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, Buyung, Sanip, Talib, Sutan, dan Pak Balam secara bersama-sama mencari damar di hutan sekitar tempat tinggal Wak Hitam.



2)      Munculnya Konflik

Pak Balam menjadi korban terkaman harimau dan merasa bahwa harimau tersebut merupakan utusan Tuhan sebagai hukuman akibat dosa yang dilakukan. Kemudian Pak Balam mulai menyuruh yang lain untuk mengakui dosa-dosanya juga satu persatu di depan mereka semua yang akhirnya mulai menimbulkan perdebatan dan penolakan keras.



3)      Konflik Memuncak (Klimaks)

Pak Balam disusul Talib dan Sutan, yang kesemuanya akhirnya meninggal diterkam harimau. Kemudian terjadilah perdebatan hebat antara Wak Katok dan Buyung.

Hal ini disebabkan kedok Wak Katok sebagai dukun palsu telah terkuak, karena ia tak dapat menyelamatkan nyawa ketiga rekannya dari terkaman harimau. Wak Katok yang tidak terima menembak Pak Haji hingga akhirnya Pak Haji pun turut meninggal.



4)      Konflik Menurun (Anti-klimaks)

Buyung membuat siasat bersama Sanip untuk menggunakan Wak Katok sebagai umpan supaya harimau mau keluar dan bisa dibunuh, agar mereka bisa kembali ke kampung.



5)      Penyelesaian

Buyung berhasil menembak harimau yang diumpankan melalui Wak Katok. Dan akhirnya mereka bertiga bisa kembali ke kampung dengan selamat



                  ii.            Tokoh dan Penokohan (Karakterisasi)

Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan dalam cerita. Sedangkan watak tokoh dan penciptaan citra tokoh disebut penokohan. Tokoh –tokoh utama dalam novel Harimau ! Harimau ! adalah Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, Buyung, Sanip, Pak Balam, Sutan, Talib, Wak Hitam, dan Siti Rubiah. Sedangkan tokoh-tokoh sampingan yang terdapat dalam novel Harimau ! Harimau ! adalah Zaitun, Wak Hamdani ( ayah Zaitun ), Ayah dan Ibu Buyung. Adapun tokoh serta penokohan yang terdapat novel Harimau ! Harimau ! adalah sebagai berikut :



1)      Pak haji Rakhmad, adapun karakterisasinya adalah sebagai berikut :

·         Realistis, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Manusia yang mau hidup sendiri tak mungkin mengembangkan kemanusiaannya. Manusia perlu manusia lain….” (hal. 198)

·         Taat pada Tuhan, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“… ingatlah ucapan ‘Bismillahirrokhmanirrohhiim’… Tuhan adalah yang Maha Pemurah dan Pengampun….” (hal. 199)



2)      Wak Katok, seorang tua yang dianggap sebagai dukun dan pandai silat. Dia mempunyai perguruan silat sehingga murid silatnya banya. Dia juga salah seorang pencari damar. Adapun karakterisasinya adalah sebagai berikut :

·         Pemaksa, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Jika perlu aku paksa dengan ini,” (hal. 132)

·         Penipu, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Jimat-jimatmu palsu, mantera-manteramu palsu. Inikah jimat-jimat juga yang dipakai oleh Pak Balam ….” (hal. 192)



3)      Buyung, seorang pemuda pencari damar. Dia murid Wak Katok yang pandai silat. Adapun karakterisasinya adalah sebagai berikut :

·         Pemalas, dibuktikan pada cuplikan dialog dibawah ini.

Tetapi, aku malas kembali. Kita telah jauh,” (hal. 58)

·         Suka menolong, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Aku tolong engkau, Rubiah,” (hal. 67)

·         Pandai, dapat dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Sungguh pandai engkau menembak, Buyung,” (hal. 83)



4)      Sanip, murid Wak Katok, pencari damar. Adapun karakterisasinya adalah sebagai berikut :

·         Jujur, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Memang kami berdosa, kami…Talib, aku, dan ….,” (hal. 128)

·         Ingkar janji, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Biarlah Sutan marah padaku karena aku melanggar janji atau sumpah ….,” (hal. 129)

·         Suka mencuri, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Kami bertiga, Talib, Sutan, dan aku, enam bulan yang lalu, yang, yang mencuri empat ekor kerbau milik Haji Serdang di kampong Kerambi,” (hal. 129)

·           Pak Balam, salah seorang pencari damar. Adapun karakterisasinya adalah sebagai berikut :

·         Jujur, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Aku merasa ringan kini aku sudah menceritakan pada kalian di depan Wak Katok beban dosa yang selama ini ….,” (hal. 100)

5)      Sutan, Pencari damar, murid Wak Katok. Adapun karakterisasinya adalah sebagai berikut :

·         Suka menyindir, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Asal sungguh dia hanya dapat kancil,” (hal. 71)

·         Penakut, dapat dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“ Huusss, jangan sebut-sebut namanya, engkau ingin dia datang menyerang kita ?” (hal. 125)

·         Suka mencuri, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Kami bertiga, Talib, Sutan, dan aku, enam bulan yang lalu, yang, yang mencuri empat ekor kerbau milik Haji Serdang di kampong Kerambi,” (hal. 129)

6)      Talib, seorang pemuda pencari damar, murid Wak Katok. Adapun karakterisasinya :

·         Suka mencuri, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“… dosa … aku berdosa … mencuri … curiiiii, ampun Tuhan….” (hal. 126)

7)      Wak Hitam, seorang tua yang tinggal menyepi dalam hutan belantara dengan keempat istrinya. Adapun karakterisasinya adalah sebagai berikut :

·         Suka mengeluh, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Aduh, beginilah kalau sudah tua dan sakit-sakit, tak ada lagi yang mengurus awak,” (hal. 50)

8)      Siti Rubiah, istri muda Wak Hitam. Adapun karakterisasinya adalah sebagai berikut:

·         Suka melamun, dibuktikan pada cuplikan dialog di bawah ini.

“Rubiah, mengapa engkau bermenung-menung sendiri ?” (hal. 62)







                iii.            Latar (Setting)

Latar adalah waktu, tempat, dan suasana ketika suatu cerita yang dialami oleh seseorang terlukis atau terjadi.

1.      Latar waktu

·         Petang

Ini terjadi pada suatu petang, ketika Zaitun datang membawa makanan untuk ibu Buyung dan …. (hal. 12)

·         Malam hari

Dalam malam serupa itu, Sanip akan mengeluarkan dangung-dangungnya dan menyanyikan lagu-lagunya. (hal. 30)

·         Pagi hari

Esok paginya, apabila yang lain masih tidur, lama sebelum subuh, Buyung telah membangunkan Wak Katok dan Sutan. (hal. 80)

2.      Latar tempat

·         Di hutan

Mereka bertujuh telah seminggu lamanya tinggal di dalam hutan mengumpulkan damar. (hal. 2)

·         Di rumah Buyung

… ketika ayah dan ibunya ayah dan ibunya menyangka, bahwa dia tak ada di rumah. (hal. 12)

·         Di kamar

… setelah Zaitun pergi, Buyung mendengar dari kamar di sebelah … (hal. 12)

·         Rumah Wak Hitam

Mereka beruntung, karena tak berapa jauh dari hutan damar, ada sebuah huma kepunyaan Wak Hitam. Disebuah pondok dilating Wak Hitamlah mereka selalu bermalam selama berada di hutan damar. (hal. 25)

·           Di pinggir sungai

Mereka bertemu di tanah terbuka di pinggir sungai. Buyung perlahan-lahan mendekati mereka. (hal. 82)





3.      Latar suasana

·         Gembira

“Untung hujan, kita sempat beristirahat”

Dan mereka semua tertawa. (hal. 19)

·         Menegangkan

Napas Buyung terasa sesak, dan mengencang. Belum pernah dia merasa apa yang dirasakannya … (hal. 68)



                iv.            Sudut Pandang

Sudut pandang atau point of view merupakan cara pandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai yang membentuk cerita. Adapun sudut pandang yang digunakan dalan novel Harimau ! Harimau ! adalah sudut pandang orang ketiga. Hal ini dikarenakan dalam kisahannya pengarang mengacu pada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti orang ketiga (ia, dia), atau menyebut nama tokoh.



                  v.            Gaya dan Nada

Gaya adalah cara pengungkapan khas seorang pengarang yang membedakannya dengan pengarang lain. Sementara nada adalah suatu hal yang dapat terbaca dan terasakan melalui penyajian fakta cerita dan sarana sastra yang terpadu dan koheren. Adapun gaya yang digunakan dalam novel Harimau ! Harimau ! adalah bahasa Indonesia.

                vi.            Amanat

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui cerita yang tertuang. Adapun amanat yang dapat diambil dari novel Harimau ! Harimau ! adalah sebagai berikut :

·         Dalam menjalani persahabatan dan kesetiakawan, kita harus jujur dan tulus satu sama lain agar tidak timbul kecurigaan.

·         Janganlah sombong terhadap apa yang kita punya.

·         Janganlah mengganggu habitat hewan, kalau tidak mau hewan tersebut menerkam kita.

·         Janganlah terlalu percaya tahayul, karena kekuatan Tuhan jauh melebihi segalanya.

·         Jika menghadapi suatu permasalahan, kita harus bersama-sama menyelesaikannya.

·         Dalam menjalani kehidupan, kita harus jujur.

·         Janganlah berbuat curang dengan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan kedudukan.



              vii.            Tema

Tema adalah pokok pikiran, ide, gagasan yang mendasari lahirnya sebuah cerita. Adapun tema dalam novel Harimau ! Harimau ! adalah mengenai masalah tahayul dan hal-hal yang berhubungan dengan ilmu magis yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. namun di atas segala-galanya itu, bahwa kekuatan Tuhan jauh melebihi segalanya.



2.4       Pendekatan Historis

            Pendekatan historis adalah pendekatan yang menekankan pada pemahaman mengenai biografi pengarang, latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa terwujudnya cerita, serta perkembangan kehidupan penciptaan kehidupan sastra pada umumnya dari zaman ke zaman.